Minggu, 03 April 2011

Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua Puluh Satu: Keimanan dan Istiqamah

عَنْ أَبِي عَمْرو، وَقِيْلَ : أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانُ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ . قَالَ : قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
[رواه مسلم]
Dari Abu ‘Amr –ada juga yang menyebutnya- Abu Amrah Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi radhiyallahu’anhu. Dia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam suatu perkataan yang aku tidak akan bertanya tentang hal itu kepada seorang pun selainmu”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim. Shahih dikeluarkan oleh Muslim di dalam [Al Iman/38/Abdul Baqi])
Penjelasan:
Hadits ke 21 dari hadits Arba’in Nawawi ini dari Abu ‘Amr, ada juga yang menyebutnya Abu Amrah Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi, dia berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam suatu perkataan yang aku tidak akan bertanya tentang hal itu kepada seorang pun selainmu”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah. Yakni, ucapan simpel tapi jelas lagi terang, sehingga aku tidak bertanya kepada seorang pun selainmu tentang perkara tersebut, maka Nabi bersabda kepadanya, “Katakanlah, aku beriman kepada Allah.” Ini adalah di dalam hati. Sedangkan istiqamah dilakuakn dengan perbuatan. Lalu Nabi memberikan kepadanya dua kalimat yang memuat seluruh ajaran agama, “Beriman kepada Allah”, kata ini mencakup keimanan kepada seluruh apa yang telah Allah beritakan, baik tentang dirinya, hari akhir, para rasulNya, dan pada ajaran yang dibawa oleh mereka, dan terkandung juga di dalamnya ketundukan.
Oleh karena itu, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kemudian istiqamahlah.” Keistiqamahan ini dibangun di atas keimanan. Pada kalimat di atas disebutkan lafazh tsumma (kemudian) yang menunjukkan urutan.
Istiqamah adalah menetapi shiratal mustaqin (jalan yang lurus), yaitu jalannya orang-orang yang Allah berikan kenikmatan kepada mereka dari kalangan para nabi, para shadiqin, para syuhada, dan orang-orang yang shaleh. Kapan pun seseorang membangun kehidupannya di atas kedua kalimat ini, maka dia akan hidup bahagia di dunia dan akhirat.
Dari hadits ini dapat dipetik faedah:
1. Antusias para sahabat untuk bertanya tentang hal-hal yang dapat memberikan manfaat kepada mereka dalam perkara agama dan dunia mereka.
2. Pemahaman yang dimiliki Abu ‘Amr atau Abu Amrah yang mana ia bertanya dengan pertanyaan yang begitu agung ini, yang di dalamnya terkandung kesudahan, dan tidak perlu lagi bertanya kepada seorang pun juga, yang mana dia bertanya, “Katakanlah tentang Islam suatu ucapan yang aku tidak akan bertanya tentangnya, kepada seorang pun selainmu.”
3. Wasiat yang paling lengkap dan bermanfaat adalah apa yang dikandung dalam hadits ini, yaitu: Beriman kepada Allah, kemudian istiqamah di atasnya, berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, “Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.”
4. Keimanan kepada Allah membutuhkan keistiqamahan. Oleh karena itu, mau tidak mau seseorang harus beriman kepada Allah dan istiqamah di atas agamaNya.
5. Agama Islam dibangun di atas kedua hal ini, yaitu keimanan yang letaknya di hati, dan istiqamah yang letaknya pada anggota badan. Sekalipun hati memiliki bagian dari hal tersebut, akan tetapi secara asalnya, isitqamah terletak pada anggota badan. Wallahu a’lam.
(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah dari Syarah Arbain An Nawawiyah oleh Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, penerjemah Abu Abdillah Salim, Penerbit Pustaka Ar Rayyan.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar